Thursday, July 30, 2015

Untuk menang tidak perlu mencetak 10 gol ke gawang lawan

Untuk menang tidak perlu mencetak 10 gol ke gawang lawan, Opini Indonesia
Jika lawan mampu mencetak 11 gol ke gawang anda artinya team anda tidak memenangkan pertarungan alias kalah. Saya suka gaya chelsea saat dilatih si "mulut besar" special one, Jose Mourinho, cukup mencetak 1 gol tapi lawan tidak mampu membalasnya, kemenangan mutlak ditangan kita apapun kata orang. Mau main bertahan, serangan balik yang cantik intinya adalah kemenangan. 

Dalam Pilkada serentak pada 9 desember 2015 ini yang melibatkan hampir 300 kepada daerah di 9 provinsi peluang memenangi pilkada terbuka buat siapa saja khususnya petahana / incumbent yang mencalonkan diri kembali.

Dalam pilbub, pilgub dan pilwalikota dengan menggandeng semua partai pemenang pemilu belum akan memenangkan jika kompetitor tidak ada satupun yang maju sebagai pesaing.  Dengan kondisi colon tunggal peserta pilkada sempritan dari wasit KPU bisa menunda kemenangan yang sudah didepan mata karena terganjal oleh aturan tidak boleh ada calon tunggal. Alih-alih biaya besar untuk merangkul semua partai politik dengan biaya besar pertandingan akan ditunda sesuai siklus 2 tahunan pilkada serentak

Selama 2 tahun menunggu kemenangan tidak bisa digenggam, meskipun petahana bisa berkuasa selama 2 tahun menunggu namun posisinya hanya sebegai Plt dengan keterbatasan wewenang khususnya dalam mengambil kebijakan strategis. Artinya merangkul semua kekuatan politik merupakan kebijakan yang membuang waktu dan biaya.

Alangkah lebih bijak jika dibuatkan 1 pasang calon lagi supaya pertandingan ini menjadi sah. Walaupun pada akhirnya calon penantang yang dibuat oleh partai politik penyeimbang ini tidak akan memenangkan pertarungan namun cost politik bisa lebih murah dan tentunya petahana bisa merangkul pihak yang (kemungkinan besar) kalah dengan cara yang fair dan terhormat dengan mengikutsertakan pasangan yang kalah dalam membangun daerah mereka secara bersama sama.

Kita ambil contoh pilwalikota surabaya yang mana pasangan incumbent Tri Rismamaharini dengan popularitas yang tertinggi dan diusung oleh PDI-P dengan koalisi parpol yang kuat membuat tidak ada pihak lain yang berani bertarung dalam artian langkah Bu Risma bisa saja terjegal sebagai calon walikota surabaya karena tidak ada calon lain yang maju (calon tunggal)

Sebaliknya di pematang siantar, pilbup malah diikuti 10 pasang calon dimana separonya diikuti pasangan dari jalur independent. Pada kasus ini kekuatan cukup merata jadi hanya yang betul-betul bernilai dimata masyarakat pemilih yang bisa memenangkan kompetisi ini.

Jadi cetaklah gol sebanyak-banyaknya namun pastikan pihak lawan tidak mampu mencetak lebih banyak dari yang kita buat atau cukup cetak 1 gol dan pastikan juga lawan tidak mampu membalasnya. Demikianlah ilustrasi proses pemenangan pilkada 2015 bahwa untuk menang tidak perlu mencetak 10 gol kegawang lawan.

Note : Gambar by Google

No comments:

Post a Comment

Semua perbedaan pendapat sangat dihargai di Blog Opini Indonesia, pastinya yang terbaik untuk membangun bangsa ini. Salam Blogger Indonesia